MAKALAH MANAJEMEN KEPERAWATAN
PENDEKATAN KEPEMIMPINAN DAN MANAJEMEN
DALAM KEPERAWATAN
Dosen Pengampu
: Ns. M.Firdaus,
M.Kep
Disusun Oleh
:
Kelompok
II
Ari Sutrianto
Budi Sukma
Miana Risfi
Nursiska
Sukma Haini
Wibowo Nugroho
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
STIKES AL-INSYIRAH PEKANBARU
T.A 2013
/ 2014
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Keperawatan pada saat ini tengah mengalami beberapa perubahan mendasar baik
sebagai sebuah profesi maupun sebagai pemberi pelayanan kepada masyarakat
dimana tuntutan masyarakat pada keperawatan agar berkontribusi secara
berkualitas semakin tinggi.
Sebagai sebuah profesi, keperawatan dihadapkan pada situasi dimana
karakteristik profesi harus dimiliki dan dijalankan sesuai kaidahnya.
Sebaliknya, sebagai pemberi pelayanan, keperawatan juga dituntut untuk lebih
meningkatkan kontribusinya dalam pelayanan kepada masyarakat yang semakin
terdidik, dan mengalami masalah kesehatan yang bervariasi serta respon terhadap
masalah kesehatan tersebut menjadi semakin bervariasi pula. Oleh karena itu,
pada saat ini diperlukan kepemimpinan yang mampu mengarahkan profesi keperawatan
dalam menyesuaikan dirinya ditengah-tengah perubahan dan pembaharuan sistem
pelayanan kesehatan. Kepemimpinan ini sekiranya yang fleksible, accessible, dan
dirasakan kehadirannya, serta bersifat kontemporer.
Mc. Gregor menyatakan bahwa setiap manusia merupakan kehidupan individu
secara keseluruhan yang selalu mengadakan interaksi dengan dunia individu
lainnya. Apa yang terjadi dengan orang tersebut merupakan akibat dari perilaku
orang lain. Sikap dan emosi dari orang lain mempengaruhi orang tersebut.
Bawahan sangat tergantung pada pimpinan dan berkeinginan untuk diperlakukan
adil. Suatu hubungan akan berhasil apabila dikehendaki oleh kedua belah
pihak.Untuk dapat melakukan hal tersebut di atas, baik atasan maupun bawahan
perlu memahami tentang pengelolaan kepemimpinan secara baik, yang pada akhirnya
akan terbentuk motivasi dan sikap kepemimpinan yang profesional.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka kelompok
berkeinginan untuk menyusun makalah
tentang pendekatan kepemimpin dan manajemen dalam keperawatan
C.
Tujuan Penulisan
1.
Tujuan Umum
Untuk mengetahui pendekatan kepemimpin dan manajemen dalam
keperawatan
2.
Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui tentang perbedaan kepemimpinan dengan manajemen
b. Untuk mengetahui sejarah
perkembangan teori manajemen dan kepemimpinan
c. Untuk mengetahui evolusi teori kepemimpinan
d. Untuk mengetahui kepemimpinan dan managemen beban keperawatan masa
depan
e. Untuk mengetahui pendekatan teoritis dalam penyelesaian masalah dan
pengambilan keputusan
f. Untuk mengetahui jenis keputusan
g. Untuk mengetahui gaya pengambilan keputusan
h. Untuk mengetahui tehnik pengambilan keputusan
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Perbedaan kepemimpinan dengan manajemen
1.
Definisi kepemimpinan
Kepemimpinan adalah seni untuk meminta seseorang
melakukan sesuatu yang anda yakini sebaiknya dikerjakan (Kouzes dan Posner,
1990 dalam Fundamental Nursing, 2005). Kepemimpinan berasal dari bahasa inggris
“Leadership” dri kata Lead yaitu pergi. Pemimpin secara umum
memiliki gambaran kemana akan pergi, suatu arah dimana seseorang dipengaruhi
umtuk mengikuti. Pemimpin merupakan orang yang memperlihatkan cara dan telah
mendapatkan gambaran jelas rentang sesuatu.
Kepemimpinan adalah hubungan yang ada dalam diri
seseorang atau pemimpin, mempengaruhi orang lain untuk bekerja secara sadar
dalam hubungan tugas untuk mencapai tujuan yang diinginkan (George R. Terry yang
dikutip dari Sutarto, 1998 : 17)
Kepemimpinan adalah kemampuan untuk menciptakan
kegiatan kelompok mencapai tujuan organisasi dengan efektifitas maksimum dan
kerjasama dari tiap-tiap individu (G.L.Feman & E.K.aylor, 1950)
2.
Definisi manajemen
Manajemen merupakan suatu pendekatan yang dinamis dan
proaktif dalam menjalankan suatu kegiatan di organisasi. Dimana di dalam manajemen
tersebut mencakup kegiatan koordinasi dan supervisi terhadap staf, sarana dan
prasarana dalam mencapai tujuan organisasi (Grant & Massey, 1999)
Manajemen didefinisikan sebagai suatu proses dalam
menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain (Gillies, 1986).
|
1.Perbedaan antara kepimpinana dan Manajemen
dari segi tugas dan fungsinya
|
|
|
|
|
2. Perbedaan antara kepimpinana dan Manajemen dari segi
pengangakatan
|
|
Bagian
dari pengikut
|
|
|
3. Perbedaan Sikap dan Cara Berpikir
|
|
|
—
Pemimpin :
1. mencari alternatif baru
2. mengembangkan problem sebagai suatu
tantangan
3. menemukan solusi kreatif
4. menghargai pembaruan, cara baru dan tidak
terlalu terikat pada aturan.
5. berpikir divergent
|
Manajer
1. menurut pada atasan
2. menggunakan cara pada umumnya
3. menemukan satu cara saja
4. mengekor pada orang lain
5. tertib untuk menghasilkan duplikasi kerja
6. mengatur orang berdasarkan aturan
7. berpikir konvergent
|
B.
Sejarah perkembangan teori kepemimpinan dan manajemen
Revolusi industri dan produksi massa
diawal tahun 20an menandai awal dari teori kepemimpinan dan manajemen. Douglas
McGregor pertengahan tahun 1960-an, dimana ia mengambarkan manajer melalui
suatu keyakinan dasar yang dianut manajer (Hersey dan Blanchard, 1988).
McGregor menggambarkan karakteristik kepemimpinan dari dua pandangan yang
berbeda “Teori X dan Teori Y”.Manajer yang percaya pada teori X
mengasumsikan orang pada dasarnya tidak suka bekerja dan sedapat mungkin akan
menghindari pekerjaan. Manajer harus memberi dorongan pada pekerjaanya untuk
bekerja dengan cara mengatur dan mengontrol serta memberi ancaman berupa
hukuman pada pekerjanya. Teori X menyakini bahwa pekerja memilih dikontrol dan
diatur,memiliki ambisi yang kecil, menolak tanggung jawab pribadidan hanya
dimotivasi oleh jaminan pekerjaan.
Pada teori Y manajer percaya bahwa
bekerja adalah suatu hal yang alamiah bagi pekerjanya sebagaimana bermain.
Teori Y menyakini bahwa pekerja memiliki kontrol diri dan akan terlibat dlam
aktivitas pencapaian tujuan. Pekerja mampu untu sukses dan mencari tanggung
jawab dalam pemecahan masalah (Dalam Fundamental of Nursing, 2005).
Daftar Asumsi
dari Teori X dan Teori
|
Daftar Asumsi dari Teori X dan
Teori Y
|
|
|
Teori X
|
Teori Y
|
|
Bekerja merupakan sesuatu yang tidak
menyenangkan
|
Bekerja sama alamiahnya dengan bermain
bila kondisi menyenangkan
|
|
Kebanyakan orang tidak ambisius,
memiliki keinginan yang kecil untuk bertanggung jawab dan cendrung untuk
diarahkan
|
Kontrol
merupakan hal yang penting dalam mencapai tujuan organisasi
|
|
Kebanyakan orang memiliki kapasitas
yang kecil untuk melahirkan kreativitas dalam mengatasi masalah organisasi
|
Kapasitas untuk berkreativitas dalam
mengatasi masalah organisasi secara luas terdistribusi dalam kelompok
|
|
Kebanyakan orang harus dikontrol dan
seringkali harus diingatkan untuk mencapai tujuan organisasi
|
Orang dapat melakukan pengaturan diri
dan kreatif dalam melakukan pekerjaan bila termotivasi baik
|
|
Dari Hersey P,Blanchard. Management of
organizational bahavior: Utilizing human resources,ed.5.Englewood Cliffs,
1988, Prentice-Hall dalam Fundamental Of Nursing
|
|
Table : Sejarah Perkembangan Teori
Manajemen
|
Periode Waktu
|
Aliran Manajemen
|
Kontributor
|
|
1870-1930
|
Manajemen Ilmiah
|
Fedrick w taylor
Frank dan Lilian
Gilbreth
Henry Gannt
Harington
Emerson
|
|
1900-1940
|
Teori Organisasi
Klasik
|
Henti Fayol
Jame J Mooney
|
|
1930-1940
|
Hubungan manusiawi
|
Hawthorne Studies
Eltion Mayo
Fritz Roenhlisberger
Hugo Monsterberg
|
|
1940- Sekarang
|
Manajemen Modern
|
Abraham Maslow Chris
Argyris, Douglas Mcgregor, Edgar schien, David Mcclelend, Robert Blake dan
Jane Mauton ,Ernest Dale, Peter Drucker dan sebagai nya, serta ahli - ahli
operation research( Management science)
|
.
C.
Evolusi teori kepemimpinan
Seorang pemimpin harus mengerti tentang teori
kepemimpinan agar nantinya mempunyai referensi dalam menjalankan sebuah
organisasi. Beberapa teori tentang kepemimpinan antara lain :
1)
Teori Sifat, Teori ini
mengidentifikasikan karakteristik khas (fisik, mental, kepribadian) yang
dikaitkan dengan keberhasilan kepemimpinan. Teori ini menekankan pada
atribut-atribut pribadi dari para pemimpin dan mendasarkannya pada asumsi bahwa
beberapa orang merupakan pemimpin alamiah dan dianugrahkan beberapa ciri yang
tidak diperoleh oleh orang lain. Teori ini menyatakan bahwa keberhasilan
kepemimpinan dikarenakan kemampuan luar biasa dari seorang pemimpin.
a)
Intelegensia, Ralph
Stogdill (1992) mengemukakan bahwa para pemimpin lebih pintar daripada
pengikutnya. Dan perbedaan intelegensia yang terlalu ekstrem dapat menimbulkan
suatu gangguan
b)
Kepribadian, Sifat
kepribadian seperti kesiagaan, keaslian, integritas pribadi dan percaya diri
diasosiasikan dengan kepemimpinan yang efektif
c)
Kedewasaan dan Keluasan Hubungan Sosial, Umumnya di dalam melakukan interaksi sosial dengan lingkungan internal maupun
eksternal, seorang pemimpin yang berhasil mempunyai emosi yang matang dan
stabil. Hal ini membuat pemimpin tidak mudah panik dan goyah dalam
mempertahankan pendirian yang diyakini kebenarannya
d)
Motivasi Diri dan Dorongan Berprestasi, Seorang pemimpin yang
berhasil umumnya memiliki motivasi diri yang tinggi serta dorongan untuk
berprestasi. Dorongan yang kuat ini
kemudian tercermin pada kinerja yang optimal, efektif dan efisien
e)
Sikap Hubungan Kemanusiaan, Adanya pengakuan terhadap harga diri dan kehormatan sehingga para pengikutnya
mampu berpihak kepadanya.
2)
Teori Kepribadian perilaku
a)
Studi dari University
Michigan, Telaah yang dilakukan oleh Unversitas Michigan tentang kepemimpinan
dengan melokasikan karakteristik perilaku kepemimpinan yang dikaitkan dengan
tingkat keefektifian kinerja. Melalui penelitian mengidentifikasikan dua gaya
kepemimpinan yang berbeda, yaitu:
· Pemimpin yang Job-Centered, Pemimpin berorientasi pada tugas dan
menerapkan pengawasan yang tegas dengan prosedur yang telah ditentukan.
Pemimpin ini mengandalkan kekuatan paksaan, imbalan dan hukuman untuk
mempengaruhi sifat-sifat dan prestasi pengikutnya
· Pemimpin yang berpusat pada bawahan, Mendelekasikan pengambilan keputusan
pada bawahan dan membantu pengikutnya dalam memuaskan kebutuhannya dengan
menciptakan lingkungan kerja yang suportif. Pemimpin yang berpusat pada
karyawan memiliki perhatian akan kemajuan, pertumbuhan dan prestasi pribadi
pengikutnya.
b)
Studi dari ohio State
University, Program penelitian di Ohio State University menghasilkan dua
perkembangan teori dua factor dari kepemimpinan yaitu:
· Membentuk struktur, Melibatkan perilaku di mana pemimpin mengorganisasikan
dan mendefinisikan hubungan-hubungan di dalam kelompok, cenderung membangun
pola dan saluran komunikasi yang jelas, dan menjelaskan cara-cara mengerjakan
tugas yang benar. Pemimpin yang memiliki kecenderungan membentuk struktur
tinggi akan berorientasi pada tujuan dan hasil
· Konsiderasi, Melibatkan perilaku menunjukan persahabatan, saling percaya,
menghargai, kehangatan, dan komunikasi antara pemimpin dan pengikunya. Pemimpin
dengan konsiderasi yang tinggi menekankan pentingnya komunikasi yang terbuka
dan partisipasi.
3)
Teori kepemimpinan Situasional
Teori ini menyatakan
bahwa pemimpin memahami perilakunya, sifat-sifat bawahannya, dan situasi
sebelum menggunakan suatu gaya kepemimpinan tertentu. Pendekatan ini
mensyaratkan pemimpin untuk memiliki keterampilan diagnostic dalam perilaku
manusia
D.
Kepemimpinan dan manajemen beban keperawatan masa depan
Kepemimpinan keperawatan mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap
pasien meskipun mereka kelihatannya jauh dari pasien. Para pemimpin keperawatan
melakukan kontak dengan pasien secara langsung maupun tidak langsung.
Stomer (1985) mengemukakan sebaiknya seorang pemimpin keperawatan / manager
keperawatan mendorong stafnya untuk melaksanakan melalui:
1.
Membuat kebijaksanaan
yang jelas dan mendorong perilaku etikal
2.
Tanggung jawab kepemimpinan
3.
Menyebarluaskan kode etik melalui teknik kerja
yang aktif
4.
Mendorong staf untuk
menambah pengetahuannya melalui kursus-kursus, pelatihan atau pendidikan
keperawatan berkelanjutan.
Hal-hal yang perlu dilakukan untuk menjadi seorang pemimpin keperawatan
yang sukses adalah sebagai berikut:
1.
Meluaskan pandangan
hari ini kemasa depan
2.
Mengetahui posisi diri Sensitif
terhadap masalah dan melihat pengaruhnya
3.
Mengikuti
kecenderungan / perubahan-perubahan
4.
Mempelajari alat / hal-hal yang harus dikuasai
5.
Berfikir terus-menerus
6.
Pendengar yang baik
7.
Mempelajari peraturan
8.
Mencegah merendahkan
orang lain.
9.
Mengembangkan keadaan
yang tidak menentang
10.
Belajar mempercayai
11.
Meningkatkan harga diri
12.
Gembira
13.
Berusaha untuk maju
14.
Menjadi seorang
pemimpin.
Dengan demikian seorang pemimpin keperawatan harus memahami kunci-kunci
keterampilan dalam manajemen keperawatan antara lain:
1. Keterampilan berkomunikasi.
2. Keterampilan memberi motivasi kepada staf.
3. Keterampilan kepemimpinan.
4. Keterampilan mengatur waktu.
5. Penyelesaian masalah
dan pengambilan keputusan
E.
Pendekatan teoritis dalam penyelesaian masalah dan pengambilan
keputusan
Pendekatan dalam penyelesaian masalah dan
pengambilan keputusan yaitu :
1.
Pendekatan standar moral, Pendekatan
standar moral untuk analisis dampak stakeholder yang dibangun langsung pada kepentingan
mendasar dari stakeholder. Hal ini lebih fokus dan memimpin pengambil keputusan
untuk analisis yang lebih luas sebagai tantangan pertama dari keputusan yang
diusulkan.
2.
Pendekatan
pastin, Pastin menggunakan konsep etika aturan dasar untuk apture
gagasan bahwa individu dan organisasi memiliki aturan-aturan dasar atau
nilai-nilai fundamental yang mengatur perilaku mereka atau perilaku yang
diinginkan. Jika keputusan dipandang menyinggung nilai-nilai ini, ada kemungkinan
bahwa disenchamtment atau relatiation akan terjadi
F.
Jenis keputusan
- Keputusan Terprogram, Merupakan keputusan yang berulang dan telah
ditentukan sebelumnya, dalam keputusan terprogram prosedur dapat digunakan
untuk menyelesaikan permasalahan yang dialami organisasi. Keputusan
terprogram memiliki struktur yang baik karena pada umumnya kriteria
bagaimana suatu kinerja diukur sudah jelas, informasi mengenai kinerja
saat ini tersedia dengan baik, terdapat banyak alternatif keputusan, dan
tingkat kepastian relatif yang tinggi. Tingkat kepastian relatif adalah
perbandingan tingkat keberberhasilan antara 2 alternatif atau lebih.
Contoh keputusan terprogram adalah aturan umum penetapan harga pada
industri rumah makan dimana makanan akan diberi harga hingga 3 kali lipat
dari direct cost
- Keputusan Tidak
Terprogram, Keputusan ini belum ditetapkan sebelumnya dan pada keputusan tidak
terprogram tidak ada prosedur baku yang dapat digunakan untuk
menyelesaikan permasalahan. Keputusan ini dilakukan ketika organisasi
menemui masalah yang belum pernah mereka alami sebelumnya, sehingga
organisasi tidak dapat memutuskan bagaimana merespon permasalahan
tersebut, sehingga terdapat ketidakpastian apakah solusi yang diputuskan
dapat menyelesaikan permasalahan atau tidak, akibatnya keputusan tidak
terprogram menghasilkan lebih sedikit alternatif keputusan dibandingkan
dengan keputusan terprogram selain itu tingginya kompleksitas dan
ketidakpastian keputusan tidak terprogram pada umumnya melibatkan
perencanaan strategik
Contoh: Dalam suatu perusahaan jika kita mendapatkan suatu
masalah maka, kita dalam mengambil sebuah keputusan untuk menyelesaikannya kita
tidak boleh terburu-buru karena dapat menyebabkan kita mengambil atau memilih
keputusan yang salah dan bahkan dapat membuat masalah semakin sulit. Oleh
karena itu kita harus mempertimbangkan dengan baik dengan cara mencari
informasi, memahaminya dengan baik, dan mendiskusikan keputusan kita dengan
orang-orang yang ikut dalam perusahaan itu, agar keputusan yang kita ambil
dapat diterima dengan baik dan dapat memecahkan masalah yang ada.
G.
Gaya pengambilan keputusan
Empat gaya pengambilan keputusan, yaitu:
1.
Gaya
mengarahkan. Orang yang menggunakan gaya ini memiliki
toleransi rendah terhadap ambiguitas dan bersikap rasional dalam cara
berpikirnya. Mereka itu efisien dan logis. Jenis mengarahkan membuat keputusan
secara cepat dan memusatkan perhatian pada jangka pendek. Kecepatan dan
efisiensi mereka dalam membuat keputusan sering mengakibatkan mereka mengambil
keputusan dengan informasi minimum dan dengan menilai sedikit alternative saja
2.
Gaya analitis. Pembuat
keputusan gaya ini mempunyai jauh lebih banyak toleransi terhadap ambiguitas
daripada jenis mengarahkan. Mereka menginginkan lebih banyak informasi sebelum
mengambil keputusan dan merenungkan lebih banyak alternative daripada pengambil
keputusan yang bergaya mengarahkan. Para pengambil keputusan analitis paling
baik di cirikan sebagai pengambil keputusan yang hati – hati dengan kemampuan
untuk beradaptasi atau menghadapi situasi – situasi yang unik
3.
Gaya konseptual. Individu –
individu dengan gaya konseptual cenderung amat luas pandangan mereka dan akan
melihat banyak alternative. Mereka memusatkan perhatian jangka panjang dan
sangat baik dalam menemukan pemecahan kreatif atas sejumlah masalah
4.
Gaya perilaku. Para pengambil
keputusan gaya ini sangat baik dalam bekerjasama dengan orang lain. Mereka
menaruh perhatian pada prestasi anak buah dan sangat suka menerima saran dari
orang lain. Seringkali mereka menggunakan rapat untuk berkomunikasi meskipun
mereka berusahamenghindari konflik. Penerimaaan oleh orang lain itu penting
bagi para pengambil keputusan yang bergaya perilaku.
H.
Tehnik pengambilan keputusan
Teknik pengambilan keputusan adalah suatu
proses penyelesaian akhir suatu masalah yang dibicarakan dlam setiap jenis
rapat. Ada beberapa Teknik pengambilan keputusan yaitu:
1.
Teknik Brainstorming, teknik brainstorming dipopulerkan oleh Alex F.Osborn
dalam bukunya Applied Imagination. Orang menggunakan istilah brainstorming untuk
mengacu pada proses untuk menghasilkan ide-ide baru atau proses untuk
memecahkan masalah. Teknik brainstorming adalah teknik untuk menghasilkan
gagasan yang mencoba mengatasi segala hambatan dan kritik.Kegiatan ini medorong
munculnya banyak gagasan termasuk gagasan yang liar, berani dengan harapan
bahwa gagasan tersebut dapat menghasilkan gagasan yanng kreatif. Brainstorming
sering digunakan dalam diskusi kelompok untuk memecahkan masalah bersama.
Jika kita menggunakan teknik brainstorming dalam rapat lakukan
langkah-langkah berikut :
a) Tuliskan permaslahan dipapan tulis.
Jelaskan maslah tersebut sehingga seluruh peserta rapat memiliki persepsi yang
sama
b) Persilakan peserta menyampaikan
gagasannya, jangan ada kritik, sanggahan atau evaluasi apapun alasannya
c) Munculkan sebanyak mungkin gagasan.
Gunakan gagasan orang lain untuk merangsang gagasan kita sendiri dan gunakan
gagasan yang liar, norakdan berani untuk merangsang gagasan yang lebih baik
d) Setelah sejumlah gagasan diperoleh
lakukan evaluasi kriitis terhadap gagasan yang ada, pilihlah gagasan yang
terbaik
e) Lakukan aksi untuk merealisasikan gagasan
tersebut
2. Teknik Delphi, Metode Delphi adalah modifikasi dari teknik brainwriting dan
survei. Dalam metode ini, panel digunakan dalam pergerakan komunikasi melalui
beberapa kuisioner yang tertuang dalam tulisan. Dalam metode Delphi, sekelompok
ahli terpilih membentuk panel yang akan menghasilkan jawaban konsensus terhadap
pertanyaan yang diajukan ke mereka. Metode Delphi tidak memasukkan diskusi tatap muka,oleh karena
itu terhindar dari ketegangan diskusi kelompok.
3. Teknik kelompok Nominal, Teknik kelompok nominal (selanjutnya dipakai singkatan TKN) adalah
salah satu teknik peran serta dalam pengambilan keputusan yang lebih jarang
dipakai dibanding dengan teknik sumbang saran. Teknik ini dikembangkan oleh
Dellbecq dan Van de Ven pada tahun 1968 (Delbecq, et all., 1975), dimaksudkan
sebagai suatu cara untuk mengumpulkan pandangan dan penilaian perorangan dalam
suasana ketidakpastian dan ketidaksepakatan mengenai inti persoalan suatu
masalah, lalu mencari jalan penyelesaian yang terbaik.
DAFTAR PUSTAKA
Wiyono, Djoko.1997.Manajemen
kepemimpinan dan organisasi
kesehatan.Surabaya: Airlangga University Press
La Monika Elaine L.1998.Kepemimpinan dan
manajemen keperawatan.Jakarta:EGC
Nursalam.2002.Manajemen Keperawatan; Aplikasi pada praktek perawatan
profesional.Jakarta: Salemba Medika
Greenberg J. & Baron RA., 1996 Behavior
in Organizations: Understanding & Managing The Human Side of Work,
Prentice Hall International Inc., p: 283 – 322. (www.goegle.co.id

Tidak ada komentar:
Posting Komentar