BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sering pasien datang untuk berkonsultasi
tentang penyakit yang mereka alami. Dari segi pendapat yang berbeda ketika
seorang pasien mengalami tentang penyakit yang dideritanya maka mereka akan
jarang sekali untuk mengkonsultasikan penyakitnya tersebut. Satu hal yang
menjadi keluhan perawat ketika pasien tidak ingin berkonsul tentang penyakit
yang diderita padahal dengan pasien berkonsultasi maka perawat akan dapat
mendeteksi secara dini tentang penyakit yang dialami oleh pasien.
Jelas saja hal itu tidak akan sanggup
bagi pasien untuk mengkonsulkan penyakit yang dirasakannya. Pasien akan
merasakan kecemasan yang tinggi tentang penyakit yang dialaminnya ketika harus
berkonsul dengan perawat. Dari sini perawat harus mampu mencari jalan keluar
agar pasien dapat bertukar informasi mengenai sakit yang dirasakannya. Kita
dapat berasumsi bahwa untuk pasien yang rawat jalan, mereka tidak hanya
mempunyai satu masalah namun bisa saja 2 masalah penyakit yang sekaligus
dideritanya baik dari fisik (biologi) dan kecemasan yang berasal dari
psikososialnya. Dan diantara keduanya, sering sekali kecemasan mengenai
penyakit yang dialami agar dapat segera
diberitahukan karena semua penyakit biopsikososial berasal dari alam.
Mengingat akan hal itu, jika kita ingin
mengetahui tentang holistik dan biopsikososial pada pasien cara yang dilakukan
adalah melakukan pendekatan dengan pendidikan pada pasien dalam mengatasi
masalah yang datangnya bukan hanya dari penyakit fisik namun dari dampak emosional
penyakit yang diderita. Pasien berusaha mencari alternatif pengobatan yang baik
untuk dirinya dan berusaha menghibur diri dari kecemasan yang memprovokasikan
mereka untuk dapat berkonsultasi.
Namun metode konvensional yang digunakan
untuk pasien yang berfokus pada pendidikan pasien mengenai patofisiologi dan
farmakologi dan juga sedikitnya emosi yang ada. Tidak ada patofisiologi dan
farmakologi yang tidak penting. Bagaimana hal itu didiskusikan mengenai patofisiologi dan farmakologi agar
terjadi konseling pendidikan yang dibutuhkan pasien. Jika tidak, pasien akan
datang dan pergi dengan hasil yang tidak memuaskan dengan konsultasinya karena kurang mematuhi
saran yang diberikan atau mereka akan kembali untuk menindak lanjuti atau
memikirkan sakit yang diderita selanjutnya.
Emosi disebabkan oleh persepsi. Dengan menggunakan keterampilan mendengarkan aktif,perawat mampu
bekerja kembali dari kecemasan ke persepsi yang telah menyebabkan kecemasan.
jika persepsi tersebut kongruen dengan kenyataan sebagai perawat merasakan
itu-jika itu adalah mispercepsion-perawat dapat segera mengintervensi dengan
memperbaiki mispercepsion, maka menenangkan kecemasan dan menghibur pasien.
Pasien mungkin memiliki persepsi yang salah tentang penyakit mereka, tetapi
hanya sedikit dari mereka menyebabkan jumlah kecemasan tingkat tinggi. setelah
menggunaan keterampilan mendengarkan aktif, perawat dapat identitas yang akurat
mengenai mispersepsi keliru yang
memprovokasi kecemasan-apa yang kita sebut sebagai ECM atau persepsi emosional
kritis. dan berurusan dengan mereka yang salahpaham untuk menghasilkan
kenyamanan yang baik dalam waktu sesingkat mungkin tentu sesuatu yang sangat
berguna dalam konteks konsultasi di mana hanya 10 sampai 15 menit dapat
diberikan karena pasien lain yang menunggu untuk dilihat.
B.
Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang dibahas diatas
maka kami dapat mengambil rumusan masalah mengenai yaitu sebagai berikut :
1. Apa saja tahapan konseling individu...?
2. Apa saja mispersepsi yang sering terjadi
pada penyakit-penyakit ...?
3. Apa saja tindakan yang dilakukan untuk
ECM ..?
C.
Tujuan Penulisan
1.
Tujuan Umum
Dengan
adanya keterampilan dalam aktivitas lab,Mahasiswa mampu melakukan konseling
dengan menggunakan metode CEA (Catharsis Educstion Action) untuk pasien individu
2.
Tujuan Khusus
Dengan adanya keterampilan dalam
aktivitas lab, mahasiswa dapat :
a. Mendeskripsikan keuntungan dari metode
konseling CEA
b. Mendeskripskan tahapan dari metode
konseling CEA
c. Melakukan konseling idividu dengan
menggunakan metode CEA untuk pasien individu
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Tahapan konseling individu
Semua alasan diatas mengapa menggunakan model CEA. Ada beberapa alasan mengenai emosi,
beberapa cara untuk membicarakan
perasaan pasien mengenai kecemasan yang dialami. Hal ini dapat dilakukan
dengan menggunakan keterampilan mendengarkan aktif untuk membawa emosi pasien yang biasanya tersembunyi.
Setelah perasaan telah diartikulasikan dan memungkinkan , keterampilan
mendengarkan aktif dapat digunakan sebagai
identitas ECM dibalik perasaan.
Pelepasan perasaan juga mengizinkan pasien untuk berpikir lebih jernih dan
membuatnya lebih mudah menerima langkah berikutnya dalam model CEA yang dapat
digunakan untuk mendidik.
Catatan, bagaimanapun bahwa mendidik pasien dalam model ini tidak
berarti memberinya kuliah standar tentang penyakitnya. Kadang-kadang untuk
memberikan pasien pengajaran dan
pembelajaran ilmiah mengenai penyakit dan pengobatannya, yang akan lebih baik
jika ada waktu, tetapi biasanya tidak ada. Pendidikan harus karena itu pertama
yang diarahkan pada mispecepsi yang
menyebabkan rasa sakit emosional yang
paling besar. Waktu yang terbatas, terutama jika ada pasien yang
menunggu, dan fokus pada ECM memberikan keuntungan besar pada pemasukan kita. Penjelasan lebih lengkap dapat diberikan jika
ada waktu memungkinkan, atau dapat
diberikan dalam kunjungan berikutnya. Hal ini tidak selalu pada kenyataannya
kontra-produktif untuk membombardir pasien dengan informasi bahwa ia mungkin
bahkan tidak dapat menjawab untuk itu. Minimal, apa yang dibutuhkan adalah
untuk menghasilkan data yang cukup sehingga kecemasannya akan mereda dan selanjutnya
pasien akan bersedia untuk mematuhi
saran perawat.
Ada empat langkah dasar dalam menggunakan keterampilan mendengarkan
aktif untuk memperoleh informasi yang diperlukan dan untuk mempromosikan emosi yang tersembunyi:
1. Apa yang anda pikirkan ketika gejala perasaan emosi datang
2. Bagaimana perasaan yang datang dan keluar ketika gagasan masuk
dalam pikran anda
3. Apa konsekuensi dari penyakit yang membuat perasaan anda gelisah
...?Dalam kebanyakan kasus, jawaban atas pertanyaan anda ada dalam ECM yang
akan menjadikan fokus dalam pendidikan kepada pasien selanjutnya.
4. Merangkum ECM dan hubungannya dengan emosi tersebut
B.
Mispersepsi yang sering terjadi pada penyakit-penyakit
Saat
ini, dua hal yang akan terjadi pada pasien.
1.
Pembicaraan
dan emosi yang terpendam
2.
Sejak
ada waktu luang untuk menjaga perasaan, sekarang ia memiliki cukup waktu untuk
memikirkan fisik dan bercerita pengalaman tentang penyakitnya. Ini adalah saat yang
tepat untuk melakukan pendekatan dan mendidik emosional yang ada sebelumnya.
Setelah
mengidentifikasi ECM, tugas perawat menggunakan metode CEA akan segera
mengatasi terlebih dahulu penyakit yang utama sebelum menangani masalah
lainnya. ECM adalah persepsi yang menyebabkan gangguan emosi paling besar. Mispersepsi
itulah yang memberikan kekuatan emosional yang akan membawa pasien kepada perawat. Yang
menjadi perhatian terprioritas. Jika pasien takut akan kematiannya akibat
penyakit tetapi kenyataannya adalah jarak kematian memungkinkan, sebuah
pernyataan langsung untuk efek yang diikuti oleh penjelasan sederhana mengapa
kematian tidak mungkin. Mengatasi ECM segera berkomunikasi dengan pasien yang
merawat perawat telah mendengarkan dia dan memahami keprihatinan itu, dan
hubungan emosional yang ini membawa ke dalam hubungan perawat-pasien bisa
sangat signifikan.
Dalam menjelaskan aspek biologi penyakit, digolongkan menjadi
beberapa yaitu:
1.
Perawat
harus mampu berbicara dengan klien menggunakan bahasa yang dapat dipahami oleh
klien dengan terperinci sehingga tidak ada lagi terpaku bahasa ilmiah.
Penjelasan harus sesederhana mungkin
agar bahasa yang digunakan dalam pendidikan kepada pasien tercapai dengan baik.
Secara keseluruhan, istilah bahasa ilmiah harus dihindari kecuali pada pasien
yang sudah akrab dan pasien yang benar-benar paham akan penyakit yang sedang ia
derita saat ini.
2.
Penjelasan
mengenai konsep yang komplit itu merupakan suatu kekuatan yang tak dapat
diremehkan. Misalnya ketika orang-orang tahu bagaimana caranya meledakkan balon
yang diisi oleh banyak udara. Disini akan menjelaskan bagaimana hubungan antara
hipertensi dan perdarahan intrakranial yang dapat dijadikan persamaan seperti
halnya balon tadi. Sebagai perawat kita tahu berbagai patofisiologi yang
mengakibatkan komplikasi, namun pasien juga harus mendapatkan motivasi dari
pengobatan yang dilakukan lalu akan mencapai tujuan yang baik.
3.
Dalam
memotivasi pasien juga harus menuruti rencana pengobatannya, dan itu penting
untuk memberikan bukti ilmiah tetapi saat ini perawat tidak perlu khawatir
untuk membicarakan dan memberikan kesaksian. Misalnya, ia dapat memberitahu
pasien dengan penyakit kanker payudara yang takut untuk dioperasi dan yang
harus dilakukan dengan cara pembedahan pasca mastektomi/ kemoterapi lalu dapat
memberanikan diri untuk bertemu dengan pasien dan membicarakan mengenai
kesaksian dari pembedahan tersebut. Pendekatan dapat dilakukan dengan efektif
dan sederhana apabila dikutip dari 5 tahun untuk kelangsungan hidupnya.
4.
Persepsi
yang salah menyebabkan kecemasan yang tinggi dan hanya sedikit hubungannnya
dengan patofisiologi dan farmakologi.
Contoh : Seorang ibu yang membawa ke3 anak laki-lakinya ke klinik
dan mengatakan obat untuk anaknya karena berat badan anaknya yang sangat
berlebihan. Namun dari hasil evaluasi berat badan diatas normal harus
mendapatkan pendidikan kesehatan dan menenangkan kecemasan ibu dari situasi
yang dihadapinya. Tetapi setelah mendengarkan penjelasan ibu tidak merasa
ketakutan lagi tentang keadaan anaknya, dan ibu mengatakan ia keturunan dari
keluarga yang obesitas.
Pendidikan yang dilakukan saat ini mengalami perbedaan, lalu saya
menyakinkan bahwa ia adalah seorang ibu yang baik dan ibu ini tidak lalai pada
kesehatan anaknya. Dalam situasi faktor psikologis seperti ini tidak
berhubungan dengan patofisiologi dan farmakologi tentang kejadian obesitas
namun ini merupakan faktor biologis yang menjadikan perhatian dari faktor
psikologis dan akan muncul perasaan yang sensitif saat mendengarkannnya.
C.
Tindakan yang dilakukan untuk ECM
Setelah mengurangi sakit pasien, perawat
sekarang dapat menetapkan tujuan dan tindakan yang akan dilakukan untuk
meringankan penyakit pasiennya. Selanjutnya meluangkan waktu untuk menjelaskan
emosionalnya dan tujuan pengobatan setelah ECM ditangani. Sebaliknya pasien
akan kembali ke ECM dan tidak akan menyelesaikan pengobatan yang telah
dijelaskan tersebut.
Asumsi yang dilakukan adalah bagaimana cara pasien menginginkan
pengobatan dengan ECM, terutama ketika melibatkan tindakan operasi atau
memberikan obat yang baik dengan efek samping. Selanjutnya denngan mendengarkan
bagaimana jalan keluar penggunaan ECM dan ECM dapat diatasi dengan segera.
Mendengarkan, berbicara dan berhubungan dengan ECM dapat mengguanakan pesan
kepada pasien bahwa perawat mendengar dan memahami keprihatinannya. Dan
jaringan emosional yang ada sangat penting untuk memotivasi pasien agar
mematuhi pengobatan yang berlangsung.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Tidak semua pasien yang datang dengan penyakit kroniknya
beranggapan yang baik tentang penyakitnya namun ada juga yang mispersepsi pada
penyakit yanng dialami. pasien
mengalami tentang penyakit yang dideritanya maka mereka akan jarang sekali
untuk mengkonsultasikan penyakitnya tersebut. Satu hal yang menjadi keluhan
perawat ketika pasien tidak ingin berkonsul tentang penyakit yang diderita
padahal dengan pasien berkonsultasi maka perawat akan dapat mendeteksi secara
dini tentang penyakit yang dialami oleh pasien karen emosi merupakan
mispersepsi yang timbul.
Metode CEA adalah pendidikan, tindakan
yang dilakukan perawat untuk mendekati pasiennya agar mau berkonsultasi tentang
masalah penyakitnya. Pendidikan dilakukan untuk memberikan motivasi untuk
membantu dan memecahkan masalah pada penyakit yang di derita oleh pasien.
B.
Saran
Mahasiswa/
perawat dapat mendiskusikan masalah klien dan mendeteksi dini masalah yang
dihadapi pasien dengan efektif
DAFTAR PUSTAKA
Muthia, ririn. 2014. Praktikum Keperawatan keluarga. Stikes
Al-Insyirah Pekanbaru : Pekanbaru
Tidak ada komentar:
Posting Komentar