Senin, 15 Desember 2014

Tahapan konseling individu
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Sering pasien datang untuk berkonsultasi tentang penyakit yang mereka alami. Dari segi pendapat yang berbeda ketika seorang pasien mengalami tentang penyakit yang dideritanya maka mereka akan jarang sekali untuk mengkonsultasikan penyakitnya tersebut. Satu hal yang menjadi keluhan perawat ketika pasien tidak ingin berkonsul tentang penyakit yang diderita padahal dengan pasien berkonsultasi maka perawat akan dapat mendeteksi secara dini tentang penyakit yang dialami oleh pasien.
Jelas saja hal itu tidak akan sanggup bagi pasien untuk mengkonsulkan penyakit yang dirasakannya. Pasien akan merasakan kecemasan yang tinggi tentang penyakit yang dialaminnya ketika harus berkonsul dengan perawat. Dari sini perawat harus mampu mencari jalan keluar agar pasien dapat bertukar informasi mengenai sakit yang dirasakannya. Kita dapat berasumsi bahwa untuk pasien yang rawat jalan, mereka tidak hanya mempunyai satu masalah namun bisa saja 2 masalah penyakit yang sekaligus dideritanya baik dari fisik (biologi) dan kecemasan yang berasal dari psikososialnya. Dan diantara keduanya, sering sekali kecemasan mengenai penyakit yang dialami agar dapat  segera diberitahukan karena semua penyakit biopsikososial berasal dari alam.
Mengingat akan hal itu, jika kita ingin mengetahui tentang holistik dan biopsikososial pada pasien cara yang dilakukan adalah melakukan pendekatan dengan pendidikan pada pasien dalam mengatasi masalah yang datangnya bukan hanya dari penyakit fisik namun dari dampak emosional penyakit yang diderita. Pasien berusaha mencari alternatif pengobatan yang baik untuk dirinya dan berusaha menghibur diri dari kecemasan yang memprovokasikan mereka untuk dapat berkonsultasi.
Namun metode konvensional yang digunakan untuk pasien yang berfokus pada pendidikan pasien mengenai patofisiologi dan farmakologi dan juga sedikitnya emosi yang ada. Tidak ada patofisiologi dan farmakologi yang tidak penting. Bagaimana hal itu didiskusikan  mengenai patofisiologi dan farmakologi agar terjadi konseling pendidikan yang dibutuhkan pasien. Jika tidak, pasien akan datang dan pergi dengan hasil yang tidak memuaskan  dengan konsultasinya karena kurang mematuhi saran yang diberikan atau mereka akan kembali untuk menindak lanjuti atau memikirkan sakit yang diderita selanjutnya.
Emosi disebabkan oleh persepsi. Dengan menggunakan keterampilan mendengarkan aktif,perawat mampu bekerja kembali dari kecemasan ke persepsi yang telah menyebabkan kecemasan. jika persepsi tersebut kongruen dengan kenyataan sebagai perawat merasakan itu-jika itu adalah mispercepsion-perawat dapat segera mengintervensi dengan memperbaiki mispercepsion, maka menenangkan kecemasan dan menghibur pasien. Pasien mungkin memiliki persepsi yang salah tentang penyakit mereka, tetapi hanya sedikit dari mereka menyebabkan jumlah kecemasan tingkat tinggi. setelah menggunaan keterampilan mendengarkan aktif, perawat dapat identitas yang akurat mengenai  mispersepsi keliru yang memprovokasi kecemasan-apa yang kita sebut sebagai ECM atau persepsi emosional kritis. dan berurusan dengan mereka yang salahpaham untuk menghasilkan kenyamanan yang baik dalam waktu sesingkat mungkin tentu sesuatu yang sangat berguna dalam konteks konsultasi di mana hanya 10 sampai 15 menit dapat diberikan karena pasien lain yang menunggu untuk dilihat.

B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang dibahas diatas maka kami dapat mengambil rumusan masalah mengenai yaitu sebagai berikut :
1.    Apa saja tahapan konseling individu...?
2.    Apa saja mispersepsi yang sering terjadi pada penyakit-penyakit ...?
3.    Apa saja tindakan yang dilakukan untuk ECM ..?


C.    Tujuan Penulisan
1.    Tujuan Umum
Dengan adanya keterampilan dalam aktivitas lab,Mahasiswa mampu melakukan konseling dengan menggunakan metode CEA (Catharsis Educstion Action) untuk pasien individu
2.    Tujuan Khusus
Dengan adanya keterampilan dalam aktivitas lab, mahasiswa dapat :
a.    Mendeskripsikan keuntungan dari metode konseling CEA
b.    Mendeskripskan tahapan dari metode konseling CEA
c.    Melakukan konseling idividu dengan menggunakan metode CEA untuk pasien individu














BAB II
PEMBAHASAN

A.      Tahapan konseling individu
Semua alasan diatas mengapa menggunakan model  CEA. Ada beberapa alasan mengenai emosi, beberapa cara untuk membicarakan  perasaan pasien mengenai kecemasan yang dialami. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan keterampilan mendengarkan aktif untuk membawa  emosi pasien yang biasanya tersembunyi. Setelah perasaan telah diartikulasikan dan memungkinkan , keterampilan mendengarkan aktif dapat digunakan sebagai  identitas  ECM dibalik perasaan. Pelepasan perasaan juga mengizinkan  pasien untuk berpikir lebih jernih dan membuatnya lebih mudah menerima langkah berikutnya dalam model CEA yang dapat digunakan  untuk mendidik.
Catatan, bagaimanapun bahwa mendidik pasien dalam model ini tidak berarti memberinya kuliah standar tentang penyakitnya. Kadang-kadang untuk memberikan pasien pengajaran  dan pembelajaran ilmiah mengenai penyakit dan pengobatannya, yang akan lebih baik jika ada waktu, tetapi biasanya tidak ada. Pendidikan harus karena itu pertama yang diarahkan pada mispecepsi  yang menyebabkan  rasa sakit emosional yang paling besar.  Waktu yang  terbatas, terutama jika ada pasien yang menunggu, dan fokus pada ECM memberikan keuntungan besar pada pemasukan kita.  Penjelasan lebih lengkap dapat diberikan jika ada  waktu memungkinkan, atau dapat diberikan dalam kunjungan berikutnya. Hal ini tidak selalu pada kenyataannya kontra-produktif untuk membombardir pasien dengan informasi bahwa ia mungkin bahkan tidak dapat menjawab untuk itu. Minimal, apa yang dibutuhkan adalah untuk menghasilkan data yang cukup sehingga kecemasannya akan mereda dan selanjutnya pasien  akan bersedia untuk mematuhi saran perawat.
Ada empat langkah dasar dalam menggunakan keterampilan mendengarkan aktif untuk memperoleh informasi yang diperlukan dan untuk mempromosikan  emosi yang tersembunyi:
1.    Apa yang anda pikirkan ketika gejala perasaan emosi datang
2.    Bagaimana perasaan yang datang dan keluar ketika gagasan masuk dalam pikran anda
3.    Apa konsekuensi dari penyakit yang membuat perasaan anda gelisah ...?Dalam kebanyakan kasus, jawaban atas pertanyaan anda ada dalam ECM yang akan menjadikan fokus dalam pendidikan kepada pasien selanjutnya.
4.    Merangkum ECM dan hubungannya dengan emosi tersebut

B.       Mispersepsi yang sering terjadi pada penyakit-penyakit
Saat ini, dua hal yang akan terjadi pada pasien.
1.    Pembicaraan dan emosi yang terpendam
2.    Sejak ada waktu luang untuk menjaga perasaan, sekarang ia memiliki cukup waktu untuk memikirkan fisik dan bercerita pengalaman tentang penyakitnya. Ini adalah saat yang tepat untuk melakukan pendekatan dan mendidik emosional  yang ada sebelumnya.
                             Setelah mengidentifikasi ECM, tugas perawat menggunakan metode CEA akan segera mengatasi terlebih dahulu penyakit yang utama sebelum menangani masalah lainnya. ECM adalah persepsi yang menyebabkan gangguan emosi paling besar. Mispersepsi itulah yang memberikan kekuatan emosional  yang akan membawa pasien kepada perawat. Yang menjadi perhatian terprioritas. Jika pasien takut akan kematiannya akibat penyakit tetapi kenyataannya adalah jarak kematian memungkinkan, sebuah pernyataan langsung untuk efek yang diikuti oleh penjelasan sederhana mengapa kematian tidak mungkin. Mengatasi ECM segera berkomunikasi dengan pasien yang merawat perawat telah mendengarkan dia dan memahami keprihatinan itu, dan hubungan emosional yang ini membawa ke dalam hubungan perawat-pasien bisa sangat signifikan.

Dalam menjelaskan aspek biologi penyakit, digolongkan menjadi beberapa yaitu:
1.    Perawat harus mampu berbicara dengan klien menggunakan bahasa yang dapat dipahami oleh klien dengan terperinci sehingga tidak ada lagi terpaku bahasa ilmiah. Penjelasan  harus sesederhana mungkin agar bahasa yang digunakan dalam pendidikan kepada pasien tercapai dengan baik. Secara keseluruhan, istilah bahasa ilmiah harus dihindari kecuali pada pasien yang sudah akrab dan pasien yang benar-benar paham akan penyakit yang sedang ia derita saat ini.
2.    Penjelasan mengenai konsep yang komplit itu merupakan suatu kekuatan yang tak dapat diremehkan. Misalnya ketika orang-orang tahu bagaimana caranya meledakkan balon yang diisi oleh banyak udara. Disini akan menjelaskan bagaimana hubungan antara hipertensi dan perdarahan intrakranial yang dapat dijadikan persamaan seperti halnya balon tadi. Sebagai perawat kita tahu berbagai patofisiologi yang mengakibatkan komplikasi, namun pasien juga harus mendapatkan motivasi dari pengobatan yang dilakukan lalu akan mencapai tujuan yang baik.
3.    Dalam memotivasi pasien juga harus menuruti rencana pengobatannya, dan itu penting untuk memberikan bukti ilmiah tetapi saat ini perawat tidak perlu khawatir untuk membicarakan dan memberikan kesaksian. Misalnya, ia dapat memberitahu pasien dengan penyakit kanker payudara yang takut untuk dioperasi dan yang harus dilakukan dengan cara pembedahan pasca mastektomi/ kemoterapi lalu dapat memberanikan diri untuk bertemu dengan pasien dan membicarakan mengenai kesaksian dari pembedahan tersebut. Pendekatan dapat dilakukan dengan efektif dan sederhana apabila dikutip dari 5 tahun untuk kelangsungan hidupnya.
4.    Persepsi yang salah menyebabkan kecemasan yang tinggi dan hanya sedikit hubungannnya dengan patofisiologi dan farmakologi.
Contoh : Seorang ibu yang membawa ke3 anak laki-lakinya ke klinik dan mengatakan obat untuk anaknya karena berat badan anaknya yang sangat berlebihan. Namun dari hasil evaluasi berat badan diatas normal harus mendapatkan pendidikan kesehatan dan menenangkan kecemasan ibu dari situasi yang dihadapinya. Tetapi setelah mendengarkan penjelasan ibu tidak merasa ketakutan lagi tentang keadaan anaknya, dan ibu mengatakan ia keturunan dari keluarga yang obesitas.
Pendidikan yang dilakukan saat ini mengalami perbedaan, lalu saya menyakinkan bahwa ia adalah seorang ibu yang baik dan ibu ini tidak lalai pada kesehatan anaknya. Dalam situasi faktor psikologis seperti ini tidak berhubungan dengan patofisiologi dan farmakologi tentang kejadian obesitas namun ini merupakan faktor biologis yang menjadikan perhatian dari faktor psikologis dan akan muncul perasaan yang sensitif saat mendengarkannnya.

C.      Tindakan yang dilakukan untuk ECM
Setelah mengurangi sakit pasien, perawat sekarang dapat menetapkan tujuan dan tindakan yang akan dilakukan untuk meringankan penyakit pasiennya. Selanjutnya meluangkan waktu untuk menjelaskan emosionalnya dan tujuan pengobatan setelah ECM ditangani. Sebaliknya pasien akan kembali ke ECM dan tidak akan menyelesaikan pengobatan yang telah dijelaskan tersebut.
Asumsi yang dilakukan adalah bagaimana cara pasien menginginkan pengobatan dengan ECM, terutama ketika melibatkan tindakan operasi atau memberikan obat yang baik dengan efek samping. Selanjutnya denngan mendengarkan bagaimana jalan keluar penggunaan ECM dan ECM dapat diatasi dengan segera. Mendengarkan, berbicara dan berhubungan dengan ECM dapat mengguanakan pesan kepada pasien bahwa perawat mendengar dan memahami keprihatinannya. Dan jaringan emosional yang ada sangat penting untuk memotivasi pasien agar mematuhi pengobatan yang berlangsung.









BAB III
PENUTUP

A.        Kesimpulan
Tidak semua pasien yang datang dengan penyakit kroniknya beranggapan yang baik tentang penyakitnya namun ada juga yang mispersepsi pada penyakit yanng dialami. pasien mengalami tentang penyakit yang dideritanya maka mereka akan jarang sekali untuk mengkonsultasikan penyakitnya tersebut. Satu hal yang menjadi keluhan perawat ketika pasien tidak ingin berkonsul tentang penyakit yang diderita padahal dengan pasien berkonsultasi maka perawat akan dapat mendeteksi secara dini tentang penyakit yang dialami oleh pasien karen emosi merupakan mispersepsi yang timbul.
Metode CEA adalah pendidikan, tindakan yang dilakukan perawat untuk mendekati pasiennya agar mau berkonsultasi tentang masalah penyakitnya. Pendidikan dilakukan untuk memberikan motivasi untuk membantu dan memecahkan masalah pada penyakit yang di derita oleh pasien.

B.        Saran
Mahasiswa/ perawat dapat mendiskusikan masalah klien dan mendeteksi dini masalah yang dihadapi pasien dengan efektif


DAFTAR PUSTAKA


Muthia, ririn. 2014. Praktikum Keperawatan keluarga. Stikes Al-Insyirah Pekanbaru : Pekanbaru

Tidak ada komentar:

Posting Komentar