BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem
Kardiovaskular berawal di jantung,Sebuah
pompa berotot yang berdenyut secara ritmis dan berulang 60-100 kali
permenit. Setiap denyut menyebabkan darah mengalir dari jantung keseluruh tubuh
dalam suatu jaringan tertutup yang terdiri dari arteri, arteriol, dan kapiler
dan kembali kejantung melalui venula dan vena. Tujuan sistem kardiovaskular
adaalah untuk mengambil oksigen diparu- paru dan zat-zat gizi yang disserap
dari usus untuk disalurkan kesemua sel tubuh. Pada saat yang sama, sistem
kardiovaskular mengangkut produk-produk sisa metabolik yang dihasilkan oleh
setiap sel untuk dibuang melalui paru dan ginjal.
Jantung
adalah sebuah organ berotot dengan empat ruang yang terletak dirongga dada,
dibawah perlindungan tulang iga, sedikit kesebelah kiri sternum. Jantung
terdapat didalam sebuah kantung longgar berisi cairan yang disebut perikardium.
Keempat ruang jantung tersebut adalah atrium kiri dan kanan dan ventrikel kiri
dan kanan.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun
rumusan masalah yang akan dibahas yaitu :
a. Apa konsep
fisiologi Anatomi Jantung...?
b. Bagaimana Asuhan
Keperawatan Tuberculosis...?
c. Bagaimana Asuhan
Keperawatan Pneumonia ...?
d. Bagaimana Asuhan
Keperawatan Asma broncial ...?
e. Bagaimana Asuhan
Keperawatan ISPA...?
1.3 Tujuan Masalah
a. Untuk mengetahui
Sistem Kardiovaskular
b. Untuk mengetahui
Asuhan Keperawatan Tuberculosis
c. Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan Pneumonia
d. Untuk mengetahui
Asuhan Keperawatan Asma Broncial
e. Untuk mengetahui
Asuhan Keperawatan ISPA
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Konsep Fisiologis
Anatomi Jantung
Jantung adalah sebuah organ berotot dengan empat ruang yang
terletak dirongga dada, dibawah perlindungan tulang iga, sedikit kesebelah kiri
sternum (Elizabeth J, 2001). Jantung terdapat didalam sebuah kantung longgar
berisi cairan yang disebut perikardium. Keempat ruang jantung tersebut adalah
atrium kiri dan kanan dan ventrikel kiri dan kanan. Atrium terletak diatas ventrikel dan saling berdampingan . Atrium
dan ventrikel dipisahkan satu dari yang lain oleh katup satu arah. Sisi kiri
dan kanan jantung dipisahkan oleh sebuah dinding jaringan yang disebut septum.
Dalam keadaan normal tidak terjadi pencampuran darah antara kedua atrium,
kecuali pada masa janin, dan tidak pernah terjadi pencampuran darah antara kedua
ventrikel pada jantung yang sehat. Semua ruamg tersebut dikelilingi oleh
jaringan ikat. Jantung mendapat suplai pernafasan yang luas
2.2 Asuhan keperawatan
Tuberculosis
A. Definisi Tuberculosis
Tuberkulosis
merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Kuman batang tahan asam ini dapat
organisme patogen. Basil tuberkel
berukuran 0,3 μmx 2 sampai 4 μm, ukuran ini lebih kecil dari satu sel
darah merah.
B. Klasifikasi Tuberculosis
1.Berdasarkan aspek kesehatan
masyarakat pada tahun 1974 American Thorasic Societymemberikan klasifikasi
baru:
Kategori O,
yaitu tidak pernah terpajan dan tidak terinfeksi, riwayat kontak tidak pernah,
tes tuberculin negatif.
Kategori I,
yaitu terpajan tuberculosis tetapi tidak tebukti adanya infeksi, disini riwayat
kontak positif, tes tuberkulin negatif.
Kategori II,
yaitu terinfeksi tuberculosis tapi tidak sakit.
Kategori III,
yaitu terinfeksi tuberculosis dan sakit.
2.Berdasarkan terapi WHO membagi
tuberculosis menjadi 4 kategori :
Kategori I :
ditujukan terhadap kasus baru dengan sputum positif dan kasus baru dengan batuk
TB berat.
Kategori II :
ditujukan terhadap kasus kamb uh dan kasus gagal dengan sputum BTA positf.
Kategori III :
ditujukan terhadap kasus BTA negatif dengan kelainan paru yang tidak luas dan
kasus TB ekstra paru selain dari yang disebut dalam kategori I.
Kategori IV :
ditujukan terhadap TB kronik.
C. Penyebab Tuberculosis
Kuman microorganisme yaitu mycobacterium tuberkulosis dengan
ukuran panjang 1 – 4 um dan tebal 1,3 – 0,6 um, termasuk golongan bakteri aerob
gram positif serta tahan asam atau basil tahan asam.
D. Patofisiologi Tuberculosis
Penularan terjadi karena kuman dibatukan atau dibersinkan
keluar menjadi droflet dalam udara. Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas selama
1 – 2 jam, tergantung ada atau tidaknya sinar ultra violet dan ventilasi yang
baik dan kelembaban. Dalam suasana yang gelap dan lembab kuman dapat bertahan
sampai berhari – hari bahkan berbulan, bila partikel infeksi ini terhisap oleh
orang yang sehat akan menempel pada alveoli kemudian partikel ini akan
berkembang bisa sampai puncak apeks paru sebelah kanan atau kiri dan dapat pula
keduanya dengan melewati pembuluh linfe, basil berpindah kebagian paru – paru
yang lain atau jaringan tubuh yang lain.
Setelah itu infeksi akan menyebar melalui sirkulasi, yang pertama
terangsang adalah limfokinase, yaitu akan dibentuk lebih banyak untuk
merangsang macrofage, berkurang tidaknya jumlah kuman tergantung pada jumlah
macrofage. Karena fungsinya adalah membunuh kuman / basil apabila proses ini
berhasil & macrofage lebih banyak maka klien akan sembuh dan daya tahan
tubuhnya akan meningkat. Tetapi
apabila kekebalan tubuhnya menurun maka kuman tadi akan bersarang didalam
jaringan paru-paru dengan membentuk tuberkel (biji – biji kecil sebesar kepala
jarum). Tuberkel lama kelamaan akan bertambah besar dan bergabung menjadi satu
dan lama-lama timbul perkejuan ditempat tersebut. Apabila jaringan yang nekrosis dikeluarkan saat penderita batuk
yang menyebabkan pembuluh darah pecah, maka klien akan batuk darah (hemaptoe).
E. Manifestasi Klinis
1. Keadaan postur
tubuh klien yang tampak terangkat kedua bahunya.
2. BB klien
biasanya menurun; agak kurus.
3. Demam, dengan
suhu tubuh bisa mencapai 40 - 41° C.
4. Batuk lama, >
1 bulan atau adanya batuk kronis.
5. Batuk yang
kadang disertai hemaptoe.
6. Sesak nafas.
7. Nyeri dada.
8. Malaise,
(anorexia, nafsu makan menurun, sakit kepala, nyeri otot, berkeringat pada
malam hari).
F. Komplikasi
Tuberculosis
Menurut Depkes RI (2002) :
·
Hemoptisis
berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian
karena syok hipovolemik atau karena tersumbatnya jalan napas.
·
Atelektasis
(paru mengembang kurang sempurna) atau kolaps dari lobus akibat retraksi
bronchial.
·
Bronkiektasis
(pelebaran broncus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada
proses pemulihan atau reaktif) pada paru.
·
Penyebaran
infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, dan ginjal.
G. Pemeriksaan
Penunjang
·
Kultur
sputum : positif untuk mycobakterium pada tahap akhir penyakit.
·
Ziehl
Neelsen : (pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk usapan cairan darah)
positif untuk basil asam cepat.
·
Test
kulit : (PPD, Mantoux, potongan vollmer) ; reaksi positif (area durasi 5 mm) terjadi 48 – 72 jam setelah injeksi
intradermal. Antigen menunjukan infeksi masa lalu dan adanya anti body tetapi
tidak secara berarti menunjukan penyakit aktif. Reaksi bermakna pada pasien
yang secara klinik sakit berarti bahwa TB aktif tidak dapat diturunkan atau infeksi
disebabkan oleh mycobacterium yang berbeda.
·
Foto
thorax ; dapat menunjukan infiltrsi lesi awal pada area paru atas, simpanan
kalsium lesi sembuh primer atau efusi cairan, perubahan menunjukan lebih luas
TB dapat masuk rongga area fibrosa.
·
Histologi
atau kultur jaringan ( termasuk pembersihan gaster ; urien dan cairan
serebrospinal, biopsi kulit ) positif untuk mycobakterium tubrerkulosis.
·
Biopsi
jarum pada jarinagn paru ; positif untuk granula TB ; adanya sel raksasa
menunjukan nekrosis.
·
Elektrosit,
dapat tidak normal tergantung lokasi dan bertanya infeksi ; ex ;Hyponaremia,
karena retensi air tidak normal, didapat pada TB paru luas.
·
Pemeriksaan
fungsi pada paru ; penurunan kapasitas vital, peningkatan ruang mati,
peningkatan rasio udara resido dan kapasitas paru total dan penurunan saturasi
oksigen sekunder terhadap infiltrasi parenkhim / fibrosis,
kehilangan jaringan paru dan penyakit pleural (TB paru kronis luas).
H. Penatalaksanaan
Medis
Dalam
pengobatan TB paru dibagi 2 bagian :
Jangka pendek.
Dengan tata cara pengobatan : setiap
hari dengan jangka waktu 1 – 3 bulan.
¡ Streptomisin inj 750 mg.
¡ Pas 10 mg.
¡ Ethambutol 1000 mg.
¡ Isoniazid 400 mg.
Kemudian dilanjutkan dengan jangka
panjang
dengan tata cara pengobatannya adalah setiap 2
x seminggu, selama 13 – 18 bulan, tetapi setelah perkembangan pengobatan
ditemukan Therapi TB paru dapat dilakukan dengan minum obat saja, obat yang
diberikan dengan jenis :
¡ INH.
¡ Rifampicin.
¡ Ethambutol.
Dengan fase selama 2 x seminggu,
dengan lama pengobatan kesembuhan menjadi 6-9 bulan.
Dengan menggunakan obat program TB
paru kombipack bila ditemukan dalam pemeriksan sputum BTA ( + ) dengan
kombinasi obat :
¡ Rifampicin.
¡ Isoniazid (INH).
¡ Ethambutol.
¡ Pyridoxin (B6).
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1Asuhan
Keperawatan Tuberculosis
a. Pengkajian
Data subjektif :
·
identitas
pasien : Nama, Jenis kelamin :
Laki-laki, Umur , Agama , Status, Pendidikan/pekerjaan Alamat, Diagnosa medis
: tuberculosis paru, Rujukan
·
Keluhan
utama pasien: Pasien mengeluh batuk terus-menerus sudah lebih dari 1 bulan,
batuk berdahak, nyeri dada, serta kelelahan.
a)
Riwayat
penyakit dahulu :
Penyakit
utama dan pernah dirawat dirumah sakit
Tidak pernah dirawat dirumah sakit, Alergi
Pasien tidak pernah mengalami alergi obat.
Tidak pernah dirawat dirumah sakit, Alergi
Pasien tidak pernah mengalami alergi obat.
b)
Riwayat
penyakit keluarga
Ada keluarga yang menderita TB paru dan ada keluarga yang memiliki kebiasaan merokok
Ada keluarga yang menderita TB paru dan ada keluarga yang memiliki kebiasaan merokok
c)
Riwayat
psikososial
Pekerjaan
Bekerja di daerah penambangan logam berat
Bekerja di daerah penambangan logam berat
Lokasi geografi
Daerah yang berpolusi tinggi dan kumuh. Lingkungan tempat tinggal
Di tempat tinggal pasien ada keluarga yang menderita TB
Daerah yang berpolusi tinggi dan kumuh. Lingkungan tempat tinggal
Di tempat tinggal pasien ada keluarga yang menderita TB
Kebiasaan Pasien memiliki kebiasaan
rokok.
Latihan
Pasien mengatakan sering batuk pada saat beraktivitas.
Pasien mengatakan sering batuk pada saat beraktivitas.
Data
objektif :
a)
Aktivitas/istirahat
Gejala : Kelelahan umum dan kelemahan
Napas pendek karena kerja
Napas pendek karena kerja
Tanda : Takikardi (108 x/mnt)
Kelelahan otot, nyeri, dan sesak (tahap lanjut)
Kelelahan otot, nyeri, dan sesak (tahap lanjut)
b)
Nyeri/kenyamanan
Gejala : Nyeri dada meningkat karena
batuk berulang (skala 6)
Tanda : Berhati-hati pada area yang
sakit
Perilaku distraksi, gelisah
Perilaku distraksi, gelisah
c)
Pernapasan
Gejala : Batuk, produktif
Napas pendek (32 x/mnt)
Riwayat terpajan pada individu
terinfeksi
Tanda
:
Peningkatan frekuensi pernapasan
(penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan pleura).
Pengembangan pernapasan tak simetris
(effusi pleural).
Perkusi pekak dan penurunan fremitus
(cairan pleural/penebalan pleural), bunyi napas menurun/tak ada secara
bilateral atau unilateral (effusi pleural/pneumotorak).
Krekels tercatat di atas apek paru
selama inspirasi cepat setelah batuk pendek . Karakteristik sputum hijau
purulen
d)
Inspeksi
- Wajah pucat
- Tampak terangkat kedua bahunya
- Nafas tidak teratur, cepat (32 x/mnt)
- Batuk berdahak
- Malaise
- Wajah pucat
- Tampak terangkat kedua bahunya
- Nafas tidak teratur, cepat (32 x/mnt)
- Batuk berdahak
- Malaise
e)
Palpasi
- Nyeri dada (skala 6)
- Denyut nadi meningkat (108 x/mnt)
- Nyeri dada (skala 6)
- Denyut nadi meningkat (108 x/mnt)
f)
Aukskultasi
- Detak jantung meningkat
- Suara krekels, mengii
- Detak jantung meningkat
- Suara krekels, mengii
g)
Perkusi
- Suara pekak pada dada, Pemeriksaan TTV , Nadi : 108 x/mnt ,Tekanan darah : 130/80 mmHg, Pernapasan : 32 x/mnt, Suhu : 40° Celcius
- Suara pekak pada dada, Pemeriksaan TTV , Nadi : 108 x/mnt ,Tekanan darah : 130/80 mmHg, Pernapasan : 32 x/mnt, Suhu : 40° Celcius
b. Diagnosa
·
Bersihan
jalan napas tak efektif berhubungan dengan sekresi yang kental.
·
Kerusakan
pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran alveolar-kapiler.
·
Gangguan
rasa nyaman berhubungan dengan nyeri akut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar