Minggu, 14 Desember 2014

makalah batu saluran kemih
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Sistem Kardiovaskular berawal di jantung,Sebuah  pompa berotot yang berdenyut secara ritmis dan berulang 60-100 kali permenit. Setiap denyut menyebabkan darah mengalir dari jantung keseluruh tubuh dalam suatu jaringan tertutup yang terdiri dari arteri, arteriol, dan kapiler dan kembali kejantung melalui venula dan vena. Tujuan sistem kardiovaskular adaalah untuk mengambil oksigen diparu- paru dan zat-zat gizi yang disserap dari usus untuk disalurkan kesemua sel tubuh. Pada saat yang sama, sistem kardiovaskular mengangkut produk-produk sisa metabolik yang dihasilkan oleh setiap sel untuk dibuang melalui paru dan ginjal.
Jantung adalah sebuah organ berotot dengan empat ruang yang terletak dirongga dada, dibawah perlindungan tulang iga, sedikit kesebelah kiri sternum. Jantung terdapat didalam sebuah kantung longgar berisi cairan yang disebut perikardium. Keempat ruang jantung tersebut adalah atrium kiri dan kanan dan ventrikel kiri dan kanan.
1.2  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas yaitu :
a.     Apa konsep fisiologi Anatomi Jantung...?
b.     Bagaimana Asuhan Keperawatan Tuberculosis...?
c.      Bagaimana Asuhan Keperawatan Pneumonia ...?
d.     Bagaimana Asuhan Keperawatan Asma broncial ...?
e.     Bagaimana Asuhan Keperawatan ISPA...?
1.3  Tujuan Masalah
a.     Untuk mengetahui Sistem Kardiovaskular
b.     Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan Tuberculosis
c.      Untuk  mengetahui Asuhan Keperawatan Pneumonia
d.     Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan Asma Broncial
e.     Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan ISPA



BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Konsep Fisiologis Anatomi Jantung
Jantung adalah sebuah organ berotot dengan empat ruang yang terletak dirongga dada, dibawah perlindungan tulang iga, sedikit kesebelah kiri sternum (Elizabeth J, 2001). Jantung terdapat didalam sebuah kantung longgar berisi cairan yang disebut perikardium. Keempat ruang jantung tersebut adalah atrium kiri dan kanan dan ventrikel kiri dan kanan. Atrium terletak diatas  ventrikel dan saling berdampingan . Atrium dan ventrikel dipisahkan satu dari yang lain oleh katup satu arah. Sisi kiri dan kanan jantung dipisahkan oleh sebuah dinding jaringan yang disebut septum. Dalam keadaan normal tidak terjadi pencampuran darah antara kedua atrium, kecuali pada masa janin, dan tidak pernah terjadi pencampuran darah antara kedua ventrikel pada jantung yang sehat. Semua ruamg tersebut dikelilingi oleh jaringan ikat. Jantung mendapat suplai pernafasan yang luas
2.2 Asuhan keperawatan Tuberculosis
A.    Definisi Tuberculosis
Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Kuman batang tahan asam ini dapat organisme patogen.  Basil tuberkel berukuran 0,3 μmx 2 sampai 4 μm, ukuran ini lebih kecil dari satu sel darah  merah.
B.    Klasifikasi Tuberculosis
1.Berdasarkan aspek kesehatan masyarakat pada tahun 1974 American Thorasic Societymemberikan klasifikasi baru:
ž Kategori O, yaitu tidak pernah terpajan dan tidak terinfeksi, riwayat kontak tidak pernah, tes tuberculin negatif.
ž Kategori I, yaitu terpajan tuberculosis tetapi tidak tebukti adanya infeksi, disini riwayat kontak positif, tes tuberkulin negatif.
ž Kategori II, yaitu terinfeksi tuberculosis tapi tidak sakit.
ž Kategori III, yaitu terinfeksi tuberculosis dan sakit.
2.Berdasarkan terapi WHO membagi tuberculosis menjadi 4 kategori :
ž Kategori I : ditujukan terhadap kasus baru dengan sputum positif dan kasus baru dengan batuk TB berat.
ž Kategori II : ditujukan terhadap kasus kamb uh dan kasus gagal dengan sputum BTA positf.
ž Kategori III : ditujukan terhadap kasus BTA negatif dengan kelainan paru yang tidak luas dan kasus TB ekstra paru selain dari yang disebut dalam kategori I.
ž Kategori IV : ditujukan terhadap TB kronik.
C.     Penyebab Tuberculosis
Kuman microorganisme yaitu mycobacterium tuberkulosis dengan ukuran panjang 1 – 4 um dan tebal 1,3 – 0,6 um, termasuk golongan bakteri aerob gram positif serta tahan asam atau basil tahan asam.
D.    Patofisiologi Tuberculosis
Penularan terjadi karena kuman dibatukan atau dibersinkan keluar menjadi droflet dalam udara. Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1 – 2 jam, tergantung ada atau tidaknya sinar ultra violet dan ventilasi yang baik dan kelembaban. Dalam suasana yang gelap dan lembab kuman dapat bertahan sampai berhari – hari bahkan berbulan, bila partikel infeksi ini terhisap oleh orang yang sehat akan menempel pada alveoli kemudian partikel ini akan berkembang bisa sampai puncak apeks paru sebelah kanan atau kiri dan dapat pula keduanya dengan melewati pembuluh linfe, basil berpindah kebagian paru – paru yang lain atau jaringan tubuh yang lain. Setelah itu infeksi akan menyebar melalui sirkulasi, yang pertama terangsang adalah limfokinase, yaitu akan dibentuk lebih banyak untuk merangsang macrofage, berkurang tidaknya jumlah kuman tergantung pada jumlah macrofage. Karena fungsinya adalah membunuh kuman / basil apabila proses ini berhasil & macrofage lebih banyak maka klien akan sembuh dan daya tahan tubuhnya akan meningkat. Tetapi apabila kekebalan tubuhnya menurun maka kuman tadi akan bersarang didalam jaringan paru-paru dengan membentuk tuberkel (biji – biji kecil sebesar kepala jarum). Tuberkel lama kelamaan akan bertambah besar dan bergabung menjadi satu dan lama-lama timbul perkejuan ditempat tersebut. Apabila jaringan yang nekrosis dikeluarkan saat penderita batuk yang menyebabkan pembuluh darah pecah, maka klien akan batuk darah (hemaptoe).
E.     Manifestasi Klinis
1.     Keadaan postur tubuh klien yang tampak terangkat kedua bahunya.
2.     BB klien biasanya menurun; agak kurus.
3.     Demam, dengan suhu tubuh bisa mencapai 40 - 41° C.
4.     Batuk lama, > 1 bulan atau adanya batuk kronis.
5.     Batuk yang kadang disertai hemaptoe.
6.     Sesak nafas.
7.     Nyeri dada.
8.     Malaise, (anorexia, nafsu makan menurun, sakit kepala, nyeri otot, berkeringat pada malam hari).

F.     Komplikasi Tuberculosis
Menurut Depkes RI (2002) :
·        Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau karena tersumbatnya jalan napas.
·        Atelektasis (paru mengembang kurang sempurna) atau kolaps dari lobus akibat retraksi bronchial.
·        Bronkiektasis (pelebaran broncus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru.
·        Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, dan ginjal.
G.    Pemeriksaan Penunjang
·        Kultur sputum : positif untuk mycobakterium pada tahap akhir penyakit.
·        Ziehl Neelsen : (pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk usapan cairan darah) positif untuk basil asam cepat.
·        Test kulit : (PPD, Mantoux, potongan vollmer) ; reaksi positif (area durasi 5 mm) terjadi 48 – 72 jam setelah injeksi intradermal. Antigen menunjukan infeksi masa lalu dan adanya anti body tetapi tidak secara berarti menunjukan penyakit aktif. Reaksi bermakna pada pasien yang secara klinik sakit berarti bahwa TB aktif tidak dapat diturunkan atau infeksi disebabkan oleh mycobacterium yang berbeda.
·        Foto thorax ; dapat menunjukan infiltrsi lesi awal pada area paru atas, simpanan kalsium lesi sembuh primer atau efusi cairan, perubahan menunjukan lebih luas TB dapat masuk rongga area fibrosa.
·        Histologi atau kultur jaringan ( termasuk pembersihan gaster ; urien dan cairan serebrospinal, biopsi kulit ) positif untuk mycobakterium tubrerkulosis.
·        Biopsi jarum pada jarinagn paru ; positif untuk granula TB ; adanya sel raksasa menunjukan nekrosis.
·        Elektrosit, dapat tidak normal tergantung lokasi dan bertanya infeksi ; ex ;Hyponaremia, karena retensi air tidak normal, didapat pada TB paru luas.
·        Pemeriksaan fungsi pada paru ; penurunan kapasitas vital, peningkatan ruang mati, peningkatan rasio udara resido dan kapasitas paru total dan penurunan saturasi oksigen sekunder terhadap infiltrasi parenkhim / fibrosis, kehilangan jaringan paru dan penyakit pleural (TB paru kronis luas).
H.    Penatalaksanaan Medis
Dalam pengobatan TB paru dibagi 2 bagian :
ž Jangka pendek.
ž Dengan tata cara pengobatan : setiap hari dengan jangka waktu 1 – 3 bulan.
¡  Streptomisin inj 750 mg.
¡  Pas 10 mg.
¡  Ethambutol 1000 mg.
¡  Isoniazid 400 mg.
ž Kemudian dilanjutkan dengan jangka panjang
ž  dengan tata cara pengobatannya adalah setiap 2 x seminggu, selama 13 – 18 bulan, tetapi setelah perkembangan pengobatan ditemukan Therapi TB paru dapat dilakukan dengan minum obat saja, obat yang diberikan dengan jenis :
¡  INH.
¡  Rifampicin.
¡  Ethambutol.
ž Dengan fase selama 2 x seminggu, dengan lama pengobatan kesembuhan menjadi 6-9 bulan.
ž Dengan menggunakan obat program TB paru kombipack bila ditemukan dalam pemeriksan sputum BTA ( + ) dengan kombinasi obat :
¡  Rifampicin.
¡  Isoniazid (INH).
¡  Ethambutol.
¡  Pyridoxin (B6).




BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1Asuhan Keperawatan Tuberculosis
a.     Pengkajian
Data subjektif :
·        identitas pasien  : Nama, Jenis kelamin : Laki-laki, Umur , Agama , Status, Pendidikan/pekerjaan Alamat, Diagnosa medis :  tuberculosis paru, Rujukan
·        Keluhan utama pasien: Pasien mengeluh batuk terus-menerus sudah lebih dari 1 bulan, batuk berdahak, nyeri dada, serta kelelahan.
a)     Riwayat penyakit dahulu :
Penyakit utama dan pernah dirawat dirumah sakit
Tidak pernah dirawat dirumah sakit,  Alergi
Pasien tidak pernah mengalami alergi obat.
b)    Riwayat penyakit keluarga
Ada keluarga yang menderita TB paru dan ada keluarga yang memiliki kebiasaan merokok
c)     Riwayat psikososial
ž Pekerjaan
Bekerja di daerah penambangan logam berat
ž Lokasi geografi
Daerah yang berpolusi tinggi dan kumuh. Lingkungan tempat tinggal
Di tempat tinggal pasien ada keluarga yang menderita TB
ž Kebiasaan Pasien memiliki kebiasaan rokok.
ž Latihan
Pasien mengatakan sering batuk pada saat beraktivitas.
Data objektif :
a)     Aktivitas/istirahat
ž Gejala : Kelelahan umum dan kelemahan
Napas pendek karena kerja
ž Tanda : Takikardi (108 x/mnt)
Kelelahan otot, nyeri, dan sesak (tahap lanjut)
b)    Nyeri/kenyamanan
ž Gejala : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang (skala 6)
ž Tanda : Berhati-hati pada area yang sakit
Perilaku distraksi, gelisah
c)     Pernapasan
ž Gejala : Batuk, produktif
ž Napas pendek (32 x/mnt)
ž Riwayat terpajan pada individu terinfeksi
Tanda :
ž Peningkatan frekuensi pernapasan (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan pleura).
ž Pengembangan pernapasan tak simetris (effusi pleural).
ž Perkusi pekak dan penurunan fremitus (cairan pleural/penebalan pleural), bunyi napas menurun/tak ada secara bilateral atau unilateral (effusi pleural/pneumotorak).
ž Krekels tercatat di atas apek paru selama inspirasi cepat setelah batuk pendek . Karakteristik sputum hijau purulen
d)    Inspeksi
- Wajah pucat
- Tampak terangkat kedua bahunya
- Nafas tidak teratur, cepat (32 x/mnt)
- Batuk berdahak
- Malaise
e)     Palpasi
- Nyeri dada (skala 6)
- Denyut nadi meningkat (108 x/mnt)
f)      Aukskultasi
- Detak jantung meningkat
- Suara krekels, mengii
g)     Perkusi
- Suara pekak pada dada, Pemeriksaan TTV , Nadi : 108 x/mnt ,Tekanan  darah : 130/80 mmHg, Pernapasan : 32 x/mnt, Suhu : 40° Celcius
b.     Diagnosa
·        Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan sekresi yang kental.
·        Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran alveolar-kapiler.
·        Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan nyeri akut.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar